<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926</id><updated>2011-12-29T18:26:43.066-08:00</updated><category term='La La La Love'/><category term='Pengantar'/><category term='Mistory'/><title type='text'>aDa-aDa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-1423453409498927692</id><published>2010-02-12T06:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T07:11:49.898-08:00</updated><title type='text'>Hari yang Tidak Seperti Biasanya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu lalu, tepatnya tanggal 7 Februrai 2010 aku mengalami hari yang aneh, begini ceritanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu hari minggu, aku masih tidur meski jam sudah menunjukkan pukul 9. Biasanya kalau hari sedang libur, aku tidurnya lama. Setelah bangun tidur, aku mandi lalu merendam pakaian yang mau dicuci. Setelah itu aku tidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun karena kepanasan, samar-samar terdengar suara adzan asar. Karena aku masih ngantuk, aku jadi malas bangun dan tidak pergi ke mesjid untuk shalat asar. Akhirnya setelah beberapa lama, kupaksakan diri untuk bangun, ke kamar mandi, lalu shalat di rumah. Tiba-tiba aku teringat cucianku yang telah kurendam, aku lalu bergegas kembali ke kamar mandi untuk mencuci baju. Untunglah saat itu matahari masih bersinar terang tanpa terhalang awan, kupikir cukuplah untuk membuat pakaianku kering hingga magrib tiba. Setelah pekerjaan cuci-mencuci selesai, kuputuskan untuk menghabiskan sisa sore itu dengan menonton film hasil unduhan di laptop, kulihat di sudut kanan bawah monitor laptopku: jamnya salah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah letih menonton aku keluar dari kamarku. Suhu terasa panas dan cahaya matahari masih benderang. Lalu terjadilah sesuatu yang membuatku heran... samar-samar terdengar suara adzan dari mesjid di dekat kosanku, padahal magrib belum juga tiba, kenapa adzan asar-nya dua kali? Ternyata aku salah dalam menyadari waktu, di pikiranku waktu berjalan 2-3 jam lebih cepat dari yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heheh.. Tidak terlalu aneh ya? Yang penting &lt;span style="font-style: italic;"&gt;update &lt;/span&gt;blog!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-1423453409498927692?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/1423453409498927692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=1423453409498927692' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/1423453409498927692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/1423453409498927692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2010/02/hari-yang-tidak-seperti-biasanya.html' title='Hari yang Tidak Seperti Biasanya'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-4503792753797976725</id><published>2010-01-26T16:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T17:04:17.447-08:00</updated><title type='text'>Membaca Angka-angka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu aku punya ketertarikan terhadap sandi-sandi atau huruf rahasia, bagaimana suatu pesan disembunyikan agar orang lain tidak tahu membacanya. Awal ketertarikanku adalah saat melihat buku catatan pramuka kakakku, di sana banyak terdapat sandi-sandi pramuka, di antaranya sandi kotak, sandi rumput, dan lainnya yang aku lupa namanya. Ada beberapa huruf rahasia yang kubuat sendiri, tapi yang bisa diketik di komputer hanya huruf angka ini, tak ada rumus untuk menghapalnya, tapi tidak terlalu susah menghapalnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;194121 5484176 541771041 177312421163&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8312747412 102172421 102172421&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54177821176 17731794177821176 17731774191 547521&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1752172414 117190173514&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;117190173514 75417414 41121621&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41621 8312741771 10419417721&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17731772117721176 75417414 41121621&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75417414 41121621 117190173514&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku pernah menulis dengan menggunakan huruf angka tersebut, tentang perasaanku terhadap seorang gadis di buku tulisku saat masih kuliah. Dan anehnya, ada seorang teman (almarhum) yang berhasil membacanya... Sejak saat itu, huruf angkaku aku modifikasi sehingga lebih sulit dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-4503792753797976725?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/4503792753797976725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=4503792753797976725' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/4503792753797976725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/4503792753797976725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2010/01/membaca-angka-angka.html' title='Membaca Angka-angka'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-5758710238340533151</id><published>2010-01-26T05:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T16:43:22.080-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistory'/><title type='text'>Cerita Hantu Ibu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat sedang melamun di kamar kos, aku teringat masa kecilku yang janggal, tentang aku, ibuku, dan cerita hantunya. Setidaknya ada dua pengalaman aneh yang berhasil kuingat, akan kucoba menceritakannya kembali dengan sisa-sisa ingatan yang ada…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongkat Mistik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa berapa usiaku saat itu, yang pasti belum sekolah. Sekitar tahun 80-an atau awal 90-an. Saat itu aku dan keluarga berkumpul di ruang tengah dalam rumahku yang sempit, menonton televisi hitam putih kecil kami. Seingatku waktu itu aku sedang sakit dan tak henti-hentinya menangis, membuat keluargaku yang ada di situ merasa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berhasil meredakan tangisku, kemudian tiba-tiba ibuku mendekatiku lalu berbisik, “Ssst… jangan terlalu keras menangisnya, nanti makhluk halus yang ada di sini mengganggu kamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kata-kata ibuku itu tak berhasil membuatku berhenti menangis, aku masih tetap saja menangis, lalu ibuku menunjuk ke suatu arah, ia menunjuk sebuah tongkat yang tergeletak di atas lemari, entah tongkat apa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku lalu berkata, “Lihat tongkat itu, tongkat itu berhantu, makanya jangan menangis lagi”.&lt;br /&gt;Aku mulai terdiam meski masih sesengukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian ibuku tiba-tiba berkata, “Lihat!! Tongkatnya hilang!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh ke atas lemari, dan… benar saja! Tongkat itu sudah tidak ada di tempatnya tadi. Aku mengedarkan pandangan mencari-cari di mana tongkat itu berada gerangan. Lalu ibuku menunjuk ke arah tempat tidur, lalu kulihat di atas kelambu yang ada di tempat tidur tergeletak tongkat yang tadi!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun tak berani menangis lagi, sejalan dengan berlalunya waktu peristiwa itu terlupakan olehku. Pernah suatu saat - bertahun-tahun setelah kejadian itu - aku bertanya pada ibuku tentang peristiwa itu, namun ibuku bilang bahwa ia tidak ingat lagi. Mungkin itu hanya trik yang dilakukan ibuku untuk membuatku berhenti menangis, yah… kuanggap saja begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tengkorak Kuning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku pernah punya mainan berupa gantungan kunci berbentuk tengkorak berwarna kuning, seingatku mainan itu pemberian sepupuku yang sering kutemani bermain. Aku lupa bagaimana awalnya sepupuku memberikan mainan itu padaku, aku juga tidak tahu darimana ia mendapatkannya. Aku selalu membawanya ke mana-mana, hingga ibuku melihat mainan tengkorak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu yang kamu bawa-bawa?” Tanya ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu memperlihatkannya pada ibuku, lalu air mukanya berubah, sepertinya ia tidak senang dengan mainanku itu. Ibuku lalu berkata bahwa tidak baik punya mainan seperti itu, mainan itu tidak cocok untuk anak kecil. Meskipun enggan, aku lalu menyerahkan mainan itu pada ibuku, lalu mainan itu dibuang ibuku dengan cara melemparkannya jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama aku sudah melupakan mainan tengkorak itu, hingga suatu saat ibuku memanggilku. Aku lupa kenapa ibuku memanggilku waktu itu, yang aku ingat adalah kejadian berikutnya: saat ibuku merogoh kantong dasternya hendak mengambil sesuatu, tiba-tiba ia meringis kesakitan... dari dalam kantongnya ibuku memperlihatkan sesuatu padaku… sebuah benda berwarna kuning… berbentuk tengkorak…benda  itu adalah mainanku yang pernah dibuang ibu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku lalu berkata, “Kamu lihatkan sekarang, berbahayanya benda ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;image &lt;/span&gt;tengkorak dalam pikiranku berhubungan dengan sesuatu yang menakutkan. Sama seperti cerita sebelumnya, peristiwa tengkorak kuning ini lama terlupakan olehku dan juga sudah dilupakan ibuku. Menurutku ini hanyalah cara ibuku melarangku memiliki benda-benda atau mainan yang menakutkan atau tidak lazim… Wallahu a’lam…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-5758710238340533151?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/5758710238340533151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=5758710238340533151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/5758710238340533151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/5758710238340533151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2010/01/cerita-hantu-ibu_2650.html' title='Cerita Hantu Ibu'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-234267438604102936</id><published>2010-01-25T22:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T06:44:26.942-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistory'/><title type='text'>Misteri Bunyi Lonceng di Malam Hari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, biasanya kuhabiskan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;surfing &lt;/span&gt;di internet, atau menonton film hasil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;download-&lt;/span&gt;an. Tak terasa sudah pukul 10 lebih, mataku sudah perih menatap monitor komputer, kuputuskan untuk tidur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mematikan lampu kamar, aku merebahkan diri di kasurku yang tipis. Komputer kubiarkan menyala karena sedang men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;download&lt;/span&gt; film yang sudah ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;DVDRip&lt;/span&gt;-nya. Di luar teman sekosanku masih menonton televisi, karena samar-samar masih terdengar suara pesawat televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ting... ting... ting..." Tiba-tiba terdengar suara lonceng, sepertinya asalnya dari depan rumah. Suara itu terdengar berpindah-pindah, di pikiranku terbayang seekor binatang piaraan yang dilehernya dikalungkan tali yang ada loncengnya, tapi apa ya... anjing? di sekitar sini tak ada anjing, dan buat apa ada anjing piaraan berkeliaran malam-malam begini. Mungkin sapi, tambah tidak masuk akal. Malam itu aku tidak begitu menghiraukan bunyi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa malam berikutnya, di waktu yang sama suara itu terdengar lagi. Saat itu aku sedang sendirian di kos, sedang menonton televisi. Suara itu terdengar melintas di depan kosku, lalu balik lagi. Aku bergegas ke jendela untuk mengintip, namun suara itu sudah hilang ditelan kegelapan malam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu sungguh membuatku penasaran. Saat ini aku masih menyelidikinya, aku menunggu saat suara itu muncul lagi... Jika ada perkembangan terbaru, akan ku-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;update-&lt;/span&gt;blog ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;27 Januari 2010 Pukul 20.46&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah mengantuk, sehabis shalat isya aku langsung tidur. Entah sudah berapa lama aku merebahkan diri, aku merasa ada yang aneh dengan suara-suara yang kudengar, namun belum begitu kuhiraukan. Setelah beberapa lama baru aku sadar kalau suara lonceng itu terdengar lagi, tapi karena mengantuk jadi kubiarkan saja, kupikir masih ada kesempatan di malam-malam berikutnya. Tapi lama-lama aku terganggu juga, aku lalu bangkit dari tempat tidur lalu bergegas ke teras rumah untuk melihat... Ya ya ya... aku gagal lagi mengungkap bunyi apa sebenarnya itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;12 Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah lama kasus ini terungkap, tapi aku malas menulisnya di blog karena ternyata di luar dugaan dan harapan. Padahal sudah mengharapkan sesuatu yang menegangkan, ternyata hanya... tukang sate keliling :(&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-234267438604102936?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/234267438604102936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=234267438604102936' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/234267438604102936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/234267438604102936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2010/01/misteri-bunyi-lonceng-di-malam-hari_25.html' title='Misteri Bunyi Lonceng di Malam Hari'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-357003003119317118</id><published>2010-01-25T21:43:00.001-08:00</published><updated>2010-01-25T23:39:20.355-08:00</updated><title type='text'>Aku Takut Ketakutan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku ini tergolong orang yang suka cerita-cerita misteri atau hantu, meskipun dulunya aku orangnya penakut dan jadi korban keisengan kakak dan keluarga yang suka menakut-nakutiku. Untuk menghilangkan sifat penakutku dibutuhkan proses yang lama dan bertahap hingga akhirnya jadi seperti sekarang... Tak takut lagi dengan yang namanya hantu (kalau ada yang menemani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulunya tidur masih ditemani orang tua, atau tidur sekamar dengan kakak, akhirnya aku mulai tidur sendirian. Tapi karena aku masih takut tidur sendiri, aku ditemani dulu sampai tertidur, lalu ditinggal sendirian di dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahap ini mulai ada peningkatan, tapi tetap saja aku masih takut untuk tidur sendiran, untuk mengakalinya, aku tidur sebelum suasana rumah sepi, sekitar pukul 8  - 9 malam, karena pada jam itu keluargaku masih nonton TV jadi masih seperti ada yang menemani. Dan lampu kamar harus tetap dinyalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahap ini aku mulai bisa tidur sendiri, tapi ketakutan masih tetap ada. Aku sudah bisa tidur tapi di bawah pukul 10, di atas itu masih takut karena mendekati pukul 12, dan aku juga sudah bisa tidur meski lampu kamar dimatikan. Masalah yang kuhadapi di sini adalah jika aku terbangun di tengah malam. Kalau itu sampai terjadi, aku pasti mengalami ketegangan yang luar biasa. Yang kulakukan biasanya menutup kepala dengan bantal dan berusaha untuk tidur lagi. Kalau cara itu gagal, aku akan bangun lalu menyalakan lampu kamar dan lampu di ruang tengah, lalu duduk-duduk di depan kamar orang tuaku sambil membaca buku, jika sudah mengantuk baru aku kembali ke kamar untuk tidur. Kalau rasa ngantuk belum datang meski sudah membaca banyak buku, yang kulakukan adalah menunggu hingga waktu subuh hampir tiba, jika suara orang mengaji telah dilantunkan di mesjid-mesjid, aku sudah bisa kembali tidur dengan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahap ini aku sudah bisa tidur kapan saja kumau, terkadang sampai begadang. Aku sudah tidak takut lagi jika terbangun di tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 5&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bukan hanya tidak takut lagi, tapi aku mulai suka nonton film-film seram dan menakut-nakuti orang lain (anak kecil). Tapi tetap saja ketakutan jika sampai melihat hantu betulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah urut-urutan yang kualami hingga menjadi pemberani seperti sekarang ini. Sekian dulu yang bisa kutulis, sudah hampir pukul 9 malam, berhubung di kosanku tidak ada siapa-siapa, malam ini aku hendak menginap di rumah teman...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-357003003119317118?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/357003003119317118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=357003003119317118' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/357003003119317118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/357003003119317118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2010/01/misteri-bunyi-lonceng-di-malam-hari.html' title='Aku Takut Ketakutan'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-9016693010468179359</id><published>2010-01-25T21:38:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T18:19:51.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>Mari Kita Mulai Lagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lama juga blog ini tidak aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;update&lt;/span&gt;, karena tidak ada kerjaan di kantor (sebenarnya ada, tapi malas dikerjakan) iseng-iseng kubuka blog ini dan... aku pun terdorong untuk menulis lagi. Segini sajalah cukup, nanti kalau kepanjangan jadi malas lagi...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-9016693010468179359?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/9016693010468179359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=9016693010468179359' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/9016693010468179359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/9016693010468179359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2010/01/mari-kita-mulai-lagi.html' title='Mari Kita Mulai Lagi'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-1979393613008355682</id><published>2007-12-15T04:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T00:22:32.095-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistory'/><title type='text'>Dalam Perjalanan di Malam Hari (Bagian 2: Rasakan Horor di Bus)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Dua minggu kemudian setelah perjalananku ke Balikpapan sebelumnya, aku kembali ke Balikpapan untuk menghabiskan akhir pekanku. Tidak seperti dua minggu yang lalu, kali itu aku naik bus AC. Meskipun perjalanannya lancar, ada beberapa kejadian di bus itu yang ingin sekali aku ceritakan…&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;# Hembusan Hantu?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Pukul 7 kurang beberapa menit aku tiba di pangkalan bus yang akan aku tumpangi ke Balikpapan. Beberapa penumpang telah naik di bus, sisanya masih nongkrong di sekitar pangkalan itu sambil menunggu bus berangkat. Aku memilih untuk menunggu di dalam bus. Kuraba saku celanaku untuk memastikan kalau aku telah membawa ponselku, lalu merogoh saku jaket untuk mengambil tiket. Kulihat tiketku dan disana tertera &lt;i style=""&gt;seat 9, &lt;/i&gt;kuedarkan pandanganku mencari tempat duduk bernomor 9. Aku ingat kata-kata seseorang yang keberadaannya tak pernah ada bahwa angka 9 di dunia antah berantah itu merupakan angka setan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tempat duduk nomor 9 berada di dekat jendela, di sebelahnya masih kosong, dan kuharap akan tetap kosong sampai bus berangkat. Kutaruh ranselku di bawah kursi lalu duduk bersandar sambil memejamkan mata. Saat itulah aku merasakannya… tiba-tiba aku merasa kedinginan, aku menggigil! Aku teringat sebuah film tentang hantu yang pernah aku tonton, kehadiran hantu dalam film itu ditandai dengan suhu yang tiba-tiba jadi dingin, bahkan uap bisa keluar dari mulut saking dinginnya. Jangan-jangan bangku kosong di sebelahku…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;# Tawa Tak Tampak?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bus berangkat tepat pukul 7 lewat sedikit. Penumpang bus ternyata tidak terlalu banyak, kursi di sebelahku kosong sehingga aku bisa menguasai dua tempat duduk. Aku bersandar dengan nyaman di kursi sambil mendengarkan lagu lewat &lt;i style=""&gt;mp3 player&lt;/i&gt;, kemudian samar-samar terdengar suara lain yang bercampur baur dengan lagu yang sedang kudengar. Suara itu… seperti suara tawa, tapi tidak jelas apakah itu suara perempuan atau laki-laki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Makin lama suara itu makin jelas, kulepas &lt;i style=""&gt;earphone&lt;/i&gt; dari telingaku, suara itu kini sangat jelas… suara anak kecil yang sedang tertawa. Namun saat itu di bus tak ada satupun anak kecil yang terlihat olehku. Saat suara itu kembali terdengar, kutatap keluar melalui jendela bus ke arah kegelapan malam… seakan suara itu berasal dari sana…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;# Getaran Gaib?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Karena lampu dimatikan, keadaan dalam bus sangat gelap. Kegelapan itu membuatku merasa nyaman untuk tidur. Kucari posisi yang enak untuk tidur, lalu kucoba pejamkan mata. Ketika masih di awal-awal perjalanan, masih bisa kudengar suara-suara percakapan penumpang, namun saat ini yang terdengar hanyalah deru mesin bus yang meraung-raung memecah kesunyian malam. Sepertinya semua penumpang terlalu letih untuk mengobrol, mudah-mudahan supir bus ini tidak terlalu letih hingga bisa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menabrakkan bus atau membuat bus meluncur masuk ke jurang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam keadaan setengah tidur sekonyong-konyong kurasakan ada yang menggelitik di pahaku. Aku tersentak bangun dari tidur setengahku, aku masih bisa merasakannya, tapi saat aku periksa tak ada yang aneh. Beberapa lama kemudian kejadian itu terjadi lagi, terasa seperti getaran halus yang menggelitik dan bikin geli. Dan sekali lagi tak ada yang aneh dengan semua itu. Aku pun tak lagi mengantuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;# Muka Mati?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bus lalu berhenti di sebuah warung makan, beberapa penumpang turun beristirahat dan mengisi perut, dan sebagian kecil tinggal saja di dalam bus. Aku termasuk salah satu dari sebagian kecil itu. Aku belum begitu merasa lapar, sebelum berangkat tadi aku sudah makan di rumah tanteku. Kupasang &lt;i style=""&gt;earphone&lt;/i&gt; di telingaku lalu kunyalakan &lt;i style=""&gt;mp3 player&lt;/i&gt;-ku, sambil menunggu bus berangkat kembali aku mendengarkan musik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bus telah melanjutkan perjalanannya kembali. Lewat kaca depan bus kulihat sesekali mobil lain dari arah berlawanan, membanjiri dengan lampu sorot yang menyilaukan. Selama beberapa saat kutatap saja pemandangan di depan bus yang berupa jalanan berkelok-kelok, dan kemudian kusadari… ada pemandangan yang lain di sana, di kaca depan bus itu… muncul… atau memang sedari tadi sudah ada tanpa kusadari… sebuah citra yang janggal yang membuatku terkejut, sebentuk wajah pucat muncul di kaca depan bus!!! Wajah seorang perempuan dengan mata terpejam dengan kulit kuning yang pucat. Kemudian, seperti munculnya, wajah itu pun menghilang dengan tiba-tiba. Saat kupikir itu hanya khayalanku, wajah itu kembali muncul seakan mengejek. Bukan khayalan… aku melihatnya sejelas melihat bulan sabit pucat di langit malam yang berawan…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;# Suara Setan?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bus yang kutumpangi ini adalah bus yang dilengkapi AC. Setiap penumpang bisa merasakan dinginnya melalui lubang yang terdapat di atas setiap tempat duduk. Tentunya supir bus ini menyadari hal itu, namun kulihat supir itu merokok, terlihat dari titik merah dekat tangannya, dan samar-samar bau rokok yang memuakkan, untungnya bau rokok itu hanya sebentar saja tertangkap oleh indra penciumanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku tersentak kaget saat mendengar suara yang keras. Suara keras itu tiba-tiba saja muncul tanpa peringatan sebelumnya. Suara sekeras itu bisa membuat orang yang berpenyakit jantung terkena serangan jantung. Aku melihat ke sekeliling, dan anehnya tak ada satu orangpun yang bereaksi terhadap suara itu, padahal suara itu cukup keras untuk didengar orang sekampung yang sedang berkumpul di lapangan sempit. Apakah yang mendengar suara itu hanya aku seorang?? Atau ada penjelasan lain yang masuk akal?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;# Malam Memang Misterius…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bus telah melewati kota Samarinda, itu artinya separuh perjalanan telah terlewati. Aku dalam keadaan sangat mengantuk waktu itu dan dalam kondisi setengah tidur. Seorang ibu-ibu duduk di tempat duduk di sampingku yang tadinya kosong. Ibu itu sedang memangku anaknya yang masih kecil, dua orang, laki-laki dan perempuan. Ibu itu menyuruh anaknya untuk memakai jaketnya karena suhu di dalam bus sangat dingin. Kedua anak itu saling menggelitiki sambil tertawa-tawa geli, ibunya menegur mereka agar diam. Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan panik para penumpang, berkali-kali supir bus membunyikan klakson, kemudian terjadi guncangan dahsyat saat bus menabrak sesuatu… lalu terasa sensasi yang aneh saat bus meluncur masuk ke jurang, terdengar teriakan takut, ngeri, panik, dan pasrah para penumpang, bus itu melayang jatuh ke jurang tanpa dasar, para penumpang beterbangan di dalam bus. Ibu yang tadi duduk di dekatku melayang di atasku tersenyum, kulit wajahnya perlahan-lahan rontok menimpa kepalaku, disertai tetesan-tetesan darah. Di kiri kananku kedua anaknya memegang tanganku, kulit mereka juga rontok, hingga tulang-tulang mereka tampak. Tangan-tangan kerangka mereka mencakar-cakar wajah dan leherku, berusaha mengoyak dagingku. Aku tak bisa bergerak, bahkan bersuara. Para penumpang bus itu kini berubah menjadi kerangka hidup yang tertawa-tawa mengelilingiku, mereka terus saja tertawa sambil berseru seram, “selamat bergabung di balik papan, di balik papan, di balik papan, di balik papan peti mati… hahahahahahahahahahaaaaah”. Aku pun ikut tertawa karena sudah menjadi kerangka juga, kulitku sudah rontok semua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Mas… Mas bangun! Sudah sampe di Balikpapan”, terdengar suara yang membangunkan aku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku membuka mata dan mendapati diriku sedang berada di bus, tak ada tanda-tanda terjadi kecelakaan, kulitku juga masih utuh, itu berarti aku hanya mimpi. Kuambil ranselku kemudian bergegas turun dari bus. Leherku terasa sangat perih, kusentuh leherku lalu kulihat di telapak tanganku ada darah. Hmm… malam memang misterius…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;---&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;---&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;---&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Catatan tangan:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Di dunia ini memang ada hal-hal yang tak terjelaskan dan tidak masuk akal. Dunia lain itu memang ada, dalam Alquran pun telah disebutkan tentang adanya makhluk lain yang bernama Jin, yang hidup berdampingan dengan manusia di dunia. Meskipun begitu, kejadian-kejadian yang kuceritakan itu bukannya tak terjelaskan…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Begini…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;# Hembusan Hantu: Rasa dingin yang kurasakan itu gara-gara AC. AC di bus itu memang sangat dingin hingga membuatku menggigil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;# Tawa Tak Tampak: Tawa yang kudengar itu tawa anak kecil, tak jelas perempuan atau laki-laki karena memang keduanya. Waktu itu tak ada anak kecil yang terlihat olehku karena terlalu gelap, lampu dalam bus dimatikan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;# Getaran Gaib: Tak ada yang aneh dengan semua itu, getaran menggelitik itu berasal dari ponselku yang kutaruh dalam saku depan celanaku, ada sms yang masuk. Aku tak lagi mengantuk karena sibuk membalas sms.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;# Muka Mati: Wajah salah seorang penumpang yang duduk di kursi paling depan terpantul di kaca depan bus. Bayangan wajahnya muncul saat bus berpapasan dengan mobil lain yang cahaya lampunya memunculkan citra itu. Awalnya aku memang terkejut, tapi setelah sadar itu hanya bayangan, aku pun tak punya alasan untuk terkejut atau takut lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;# Suara Setan: Bunyi klakson bus itu memang keras dan membuatku kaget yang waktu itu sedang bengong, apalagi aku memang orang yang ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kagetan&lt;/span&gt;’. Tentu saja penumpang lain menganggap itu hal biasa dan tidak ada yang aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;# Malam Memang Misterius: Penjelasan tentang hal ini adalah yang paling sederhana. Meskipun malam memang misterius, tapi mimpi itu hanya cerita karanganku saja, untuk melengkapi cerita-cerita sebelumnya, dengan kata lain: aku bohong!! HUHUHUHUHUWWWW….!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-1979393613008355682?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/1979393613008355682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=1979393613008355682' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/1979393613008355682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/1979393613008355682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/12/dalam-perjalanan-di-malam-hari-bagian-2.html' title='Dalam Perjalanan di Malam Hari (Bagian 2: Rasakan Horor di Bus)'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-5000279993634395814</id><published>2007-12-15T04:32:00.000-08:00</published><updated>2007-12-15T04:37:34.531-08:00</updated><title type='text'>Dalam Perjalanan di Malam Hari (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Selama tinggal di Bontang, biasanya setiap dua minggu sekali aku berkunjung ke tempat kakakku yang ada di Balikpapan, dengan menempuh waktu 5 jam perjalanan, melintasi jalan yang membelah hutan, dan kadang-kadang mengalami suatu kejadian yang tak terduga…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;"&gt;Waktu itu tanggal 16 November 2007, aku dalam perjalanan ke tempat kakakku di Balikpapan. Ini bukan yang pertama kalinya buatku, jadi kurasa tak ada yang perlu dikuatirkan. Namun kemudian kenyataan mengharuskan aku merasa kuatir, jreng! jreng!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;"&gt;Mobil yang aku tumpangi ke Balikpapan yang sebelumnya dipesan lewat travel, sebelum bertolak ke Balikpapan terlebih dahulu akan menjemput penumpang satu-persatu di tempat tinggal masing-masing, dan karena kebetulan aku penumpang yang pertama dijemput, jadi aku harus menunggu lebih lama. Setelah satu jam lebih mobil berputar-putar di kota Bontang menjemput para penumpang yang kadang belum siap dijemput, akhirnya mobil melaju keluar dari kota itu menembus kegelapan malam yang menyelimuti, wuzzzzzzzz….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;"&gt;Di tengah perjalanaan, tiba-tiba pak supir menghentikan mobil di pinggir jalan, dekat beberapa mobil yang sedang parkir. Kebingunganku akhirnya terjawab setelah semua penumpang disuruh turun dan pindah ke mobil lain, mobil yang kutumpangi dari Bontang mengalami kerusakan pada lampu depannya. Bagiku sih tidak masalah, yang penting sampai ke tujuan dengan selamat, tapi di kemudian hari aku sadar bahwa selamat sampai ke tempat tujuan saja tidak cukup, kenyamanan saat perjalanan juga penting, hmmm…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;"&gt;Di mobil pengganti aku mendapat posisi yang nyaman, namun kejadian berikutnya sama sekali tidak membuatku nyaman. Baru saja mobil memasuki jalan, tiba-tiba dari arah kanan sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menghantam sisi kanan depan mobil hingga sepeda motor itu beserta pengendaranya terhempas ke aspal. Aku kaget bukan main, saat kulihat ke tempat jatuhnya pengendara motor itu, terlihat darah yang tercecer di aspal. Aku jadi merinding, tak berani melihat kondisi pengendara motor itu, mungkin saja organ-organ tubuhnya sudah berhamburan di jalan, karena itu aku diam saja di dalam tanpa berani melihat apa yang terjadi. Setelah bermenit-menit berlalu, kuberanikan diri melihat apa yang terjadi, sang supir dan pengendara motor itu ternyata sedang berunding, di aspal tak ada tanda-tanda darah sebagaimana yang kulihat tadi. Aku jadi bertanya-tanya apa itu hanya halusinasiku saja? Hiiiiih…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;"&gt;Setelah lama entah berapa lama, akhirnya sang pengendara motor melanjutkan kembali perjalanannya dan begitupun aku. Sebenarnya aku masih belum bisa menerima apa yang terjadi, seharusnya pengendara motor itu terluka parah, karena tadinya aku melihat ada darah. Tapi bagaimanapun juga aku merasa senang karena perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Sayangnya kejadian sial kembali datang, ban mobil yang kutumpangi kempes sehingga mobil harus berhenti untuk mengganti ban. Kulihat di kiri dan kanan jalan yang ada hanya pepohonan yang rimbun, alias hutan. Beberapa penumpang ikut membantu supir mengganti ban mobil, aku yang tidak ingin mengganggu hanya diam saja di mobil dengan perasaan waswas, takut jika tiba-tiba kami dirampok, karena suasana di sekitar begitu sepi dan gelap. Samar-samar terdengar suara supir yang bernada riang: “…ehehe dongkraknya kayaknya gak bisa dipake neh” Aaaaargghhh!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;"&gt;Akhirnya setelah lama yang terasa lama sekali, ban mobil berhasil diganti setelah diganjal dengan kayu yang dicari dengan susah payah. Di sebuah pompa bensin, mobil berhenti untuk mengisi bensin. Setelah mengisi bensin, saat hendak memasuki jalan, hampir saja mobil disambar truk yang melaju cepat. Setelah semua kejadian itu kupikir takkan ada masalah lagi, sesampainya nanti di Balikpapan, semua penumpang akan diantar ke tempat tujuan masing-masing. Tapi sebuah obrolan antara penumpang dengan sang supir membuatku tak nyaman:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penumpang 1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pak, nanti saya turun di dekat bandara yak?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Supir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bandara? Ok&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penumpang 2&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:  &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Klo saya di daerah [lupa] ini ya pak?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Supir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Eeeh…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penumpang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;???&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -1.25in;"&gt;Supir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:  &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya taunya cuma sampe di bandara aja, saya ne cuman supir yang jemput orang di bandara, klo daerah di Balikpapan saya gak tau.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -1.25in;"&gt;Aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;[dalam hati] &lt;i style=""&gt;sialan! Ne supir entar mw buang aku di mana neh, gw juga gk tau daerah-daerah di Balikpapan. Mana dah tengah malem lagi, gimana nih gimana nih???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Saat waktu telah lewat tengah malam, mobil berhenti di sebuah bengkel untuk menambal ban. Dan sekali lagi aku harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menunggu lama sekali sekali lagi. Baru setelah begitu lama yang lamanya tidak tahu berapa lama pokoknya lama, akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meskipun sisa perjalanan itu ditempuh dengan lancar, aku masih bingung di Balikpapan nanti aku diturunkan di mana?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Untungnya ada salah satu penumpang yang mengenal daerah-daerah di Balikpapan, atas pentunjuknya sang supir dapat dengan sukses mengantar para penumpang ke tempat tujuan masing-masing. Perjalan dari Bontang ke Balikpapan yang seharusnya ditempuh selama kurang lebih 5 jam, berkat kejadian-kejadian tersebut di atas, akhirnya ditempuh selama kurang lebih 8 jam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Setelah dua hari di Balikpapan aku kembali ke Bontang, dengan penuh harapan mudah-mudahan perjalan kembali ke Bontang dapat ditempuh dengan lancar tanpa halangan. Dan lalu kemudian di tengah perjalanan menuju Bontang, mobil yang kutumpangi tiba-tiba berasap, mesinnya mati, para penumpang berhamburan keluar, lalu DUARRRRRRRR!!! Mobil itu meledak!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;---&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ehm.. sebenarnya mobil itu memang berasap dan mesinnya mati, tapi tidak meledak&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-5000279993634395814?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/5000279993634395814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=5000279993634395814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/5000279993634395814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/5000279993634395814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/12/dalam-perjalanan-di-malam-hari-bagian-1.html' title='Dalam Perjalanan di Malam Hari (Bagian 1)'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-3116935711573710560</id><published>2007-12-15T04:26:00.000-08:00</published><updated>2007-12-15T04:31:31.320-08:00</updated><title type='text'>Selamat Datang di Bontang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Setelah empat tahun di Jakarta, menghabiskan masa-masa kuliah dan magang, akhirnya aku ditempatkan juga bekerja, namun sayangnya tempatnya bukan di Makassar sebagaimana yang aku inginkan, tapi di suatu kota kecil di Kalimantan Timur yang bernama Bontang. Tanggal 21 Oktober 2007 aku ditemani keluargaku berangkat ke Bontang. Meskipun awalnya bikin shock, tapi setelah beberapa minggu tinggal di sana, akhirnya aku bisa juga beradaptasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Kalau dibandingkan temang-temanku yang lain, yang ditempatkan di Indonesia timur, aku terbilang cukup beruntung. Di Bontang belakangan aku ketahui ternyata ada keluarga jauh dari pihak ibuku. Dan biasanya setiap dua minggu sekali aku berkunjung ke tempat kakakku yang ada di Balikpapan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Sedikit mengenai kota Bontang &lt;i style=""&gt;(berdasarkan brosur yang kudapat dari temanku):&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Bontang berasal dari kata Bon dan Tang. Bon/Bond berarti perkumpulan atau gabungan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mungkin kata itu berasal dari bahasa purba yang sudah punah&lt;/span&gt;), sedangkan Tang akronim dari pada pendatang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aji Pao betul-betul kreatif&lt;/span&gt;). Konon katanya nama itu diberikan oleh Aji Pao sang pendiri kota Bontang setelah melihat banyaknya pendatang di daerah itu yang terdiri dari berbagai etnis suku bangsa, yaitu Bajao, Bugis, Banjar, Arab, China, Melayu, dan suku Kutai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Kota Bontang yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur mempunyai luas wilayah kurang lebih 406.700 km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;, terletak di bagian pesisir pantai bagian timur Propinsi Kalimantan Timur. Jumlah penduduknya sebanyak 117.082 jiwa pada tahun 2005. Mayoritas penduduk Bontang adalah pendatang yang mencari nafkah, baik sebagai karyawan/buruh di perusahaan besar (PT Badak NGL, PT Pupuk Kaltim Tbk, dan PT Indominco Mandiri) maupun sebagai pedagang, pengusaha, dan pegawai negeri sipil (PNS).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Salah satu obyek wisata di Bontang adalah perkampungan nelayan di atas permukaan laut yang bernama Perkampungan Bontang Kuala. Semua tempat tinggal di sana terbuat dari kayu, umumnya jenis kayu yang dipakai adalah kayu khas kalimantan bernama kayu Ulin. Bontang kuala memiliki arena berkumpulnya keluarga dan anak muda sehingga wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat dari segenap penjuru Bontang, dan dapat pula menginap bersama warga lokal dengan segala kekhasannya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hanya saja jangan heran jika suatu saat anda diceburkan ke laut sebagai persembahan kepada Sang si makhluk halus penjaga daerah itu, hehehehehe…&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Yah.. yah.. yah.. dengan menulis tentang kota Bontang dapat sedikit mengobati kekecewaanku karena ditempatkan di kota itu. Terus terang saja, apa yang ditulis dalam brosur itu tidak selalu sama dengan kenyataannya, seperti kata sebuah iklan: &lt;i style=""&gt;gak semua yang lo denger itu bener…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-3116935711573710560?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/3116935711573710560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=3116935711573710560' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/3116935711573710560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/3116935711573710560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/12/selamat-datang-di-bontang.html' title='Selamat Datang di Bontang'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-2643171342135544006</id><published>2007-09-28T00:01:00.000-07:00</published><updated>2010-01-26T00:26:31.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistory'/><title type='text'>Me and the Death</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hai, perkenalkan namaku Imran. Sudah setahun aku lulus kuliah di STAN. Kegiatanku sekarang adalah magang di KPP Pratama Jakarta Menteng Satu, sambil menunggu ditempatkan. Kisah ini muncul begitu saja dalam pikiranku saat aku sedang bosan-bosannya di kantor…&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bad Beginning&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… BRUAKKKK!!! Sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhku. Tulangku remuk seperti kerupuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Shocker’s Strike&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, tubuhku bergetar tersentak seperti tersengat listrik… Oww.. memang listrik, tepatnya aku disambar petir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Feel Flying&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas karena peganganku terlepas, meluncur ke luar lewat pintu bus dan mendarat di aspal sambil terguling-guling. Belum lagi aku berhenti berguling, sebuah sepeda motor meluncur menggilas leherku. KRAAAKKK..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 4&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hammer Head&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. “Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir mengerem bus secara mendadak, menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang tiba-tiba terjatuh. Dan seketika itu juga… DRAAAKK… PRANGGG!!!! Kepalaku menghantam kaca depan bus dengan keras hingga pecah, yang pecah kacanya dan kepalaku. Darah mengalir keluar dari retakan-retakan kepalaku yang pecah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 5&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mad Monkey&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. “Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir membanting kemudi bus, membuatku terhempas ke samping. Aku kaget, ternyata sang supir berusaha menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan. “Sialan!! An****!!” umpat sang supir. Kulihat kembali stiker itu, tulisannya: “MATIKAN LISTRIK JIKA TIDAK DIPAKAI”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hujan lebat telah berganti gerimis, jalanan mulai agak macet, kemungkinan sampai di Blok M masih lama. Di sepanjang jalan Sudirman, kulihat jalur busway koridor satu membelah jalan. Sejenak terbersit keinginan untuk naik busway yang bebas macet, namun akhirnya kuputuskan untuk menghemat uangku tiga ribu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ratus rupiah. Mungkin sebaiknya aku mengisi waktu sambil membaca. Kurogoh tasku mencari-cari novel yang tadi kupinjam dari temanku. Judulnya ‘Anjing Sialan’, sampulnya bergambar seekor anjing yang kepalanya terkena tembakan saat sedang melompati sebuah pagar. Judulnya aneh, sudah anjing, sialan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Membaca membuatku mengantuk, sekonyong-konyong dari arah belakang kudengar suara riang anak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maah…mah… liat ada mobil gede” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak menjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaah…mah… liat ada monyetnya juga”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah…maah… liat monyetnya merokok” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya masih diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaaaaa… monyetnya maen musik” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak merespon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah… liat banyak tabung gas yang kayak di rumah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menoleh melihat sebuah mobil truk yang mengangkut tabung gas elpiji, dan seekor monyet yang sedang merokok di dekat tabung-tabung itu sambil memukul-mukul tabung dengan palu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Waw… kebetulan sekali” kataku sambil menutup telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terjadi ledakan yang dahsyat. Truk itu, dan mobil-mobil di sekitarnya ikut meledak, termasuk bus yang aku tumpangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 6&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;The Train&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. “Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;       Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir membanting kemudi bus, membuatku terhempas ke samping. Aku kaget, ternyata sang supir berusaha menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan. “Sialan!! An****!!” umpat sang supir. Kulihat kembali stiker itu, tulisannya: “MATIKAN LISTRIK JIKA TIDAK DIPAKAI”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hujan lebat telah berganti gerimis, jalanan mulai agak macet, kemungkinan sampai di Blok M masih lama. Di sepanjang jalan Sudirman, kulihat jalur Busway koridor satu membelah jalan. Sejenak terbersit keinginan untuk naik Busway yang bebas macet, namun akhirnya kuputuskan untuk menghemat uangku tiga ribu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ratus rupiah. Mungkin sebaiknya aku mengisi waktu sambil membaca. Kurogoh tasku mencari-cari novel yang tadi kupinjam dari temanku. Judulnya ‘Anjing Sialan’, sampulnya bergambar seekor anjing yang kepalanya terkena tembakan saat sedang melompati sebuah pagar. Judulnya aneh, sudah anjing, sialan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Membaca membuatku mengantuk, sekonyong-konyong lalu dari arah belakang kudengar suara riang anak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maah…mah… liat ada mobil gede” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak menjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaah…mah… liat ada monyetnya juga”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah…maah… liat monyetnya merokok” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya masih diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaaaaa… monyetnya maen musik” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak merespon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah… liat banyak tabung gas yang kayak di rumah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menoleh melihat sebuah mobil truk yang mengangkut tabung gas elpiji, dan seekor monyet yang sedang merokok di dekat tabung-tabung itu sambil memukul-mukul tabung dengan palu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Waw… kebetulan sekali” kataku sambil menutup telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terjadi ledakan yang dahsyat. Truk itu, dan mobil-mobil di sekitarnya ikut meledak, termasuk bus yang aku tumpangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku terjaga dari tidurku. Weeew… mimpi yang mengerikan. Aku ketiduran saat membaca novel ‘Anjing Sialan’. Untunglah cuma mimpi, kupikir aku sudah mati. Rupanya bus telah sampai di terminal Blok M. Aku bergegas keluar dari bus menuju ke jalur 4, menunggu Metromini #71 jurusan Bintaro. Langit mulai gelap, aku perkirakan akan sampai di kosan sekitar pukul 19.30. Tak perlu menunggu terlalu lama, metromini #71 akhirnya datang, aku segera naik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur. Aku sempat bermimpi sedang berdiri di tepi jurang, lalu tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku hingga aku terjatuh ke jurang... lalu terdengar bunyi dentangan. Aku dibangunkan oleh suara mirip lonceng yang berdentang, “Teng…teng…teng…teng…” yang ternyata suara peringatan kereta api akan melintas. Sebelum palang untuk mencegah kendaraan melintasi rel kereta api diturunkan, bus yang kutumpangi tetap melaju berusaha melintasi rel, rupanya sang supir sedang nekat menerobos. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ban bus terperosok ke tanah yang becek saat badan bus berada di tengah rel. Supir menancap gas, namun bus tak juga maju. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang siap melintas. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penumpang panik berlari berhamburan keluar dari bus. Kereta semakin dekat, dengan tenang aku berjalan keluar dari bus. Aku berdiri tidak jauh dari bus, ingin menyaksikan dengan jelas peristiwa yang jarang terjadi: bus yang ditabrak kereta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kemudian… BRAKKKKKQQQQQQQQQQHHH!!!! Bus itu hancur berantakan ditabrak kereta yang melesat cepat. Serpihan dari bus itu terbang melesat ke segala arah. Sebuah serpihan kaca melesat menancap di leherku... CROTT… darah muncrat, kemudian disusul serpihan lain yang lebih besar menghantam kepalaku… ZRAACKKK… kepalaku terkoyak. BRUKK! Aku ambruk ke tanah berlumuran darah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 7&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sad Story&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. “Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;        Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir membanting kemudi bus, membuatku terhempas ke samping. Aku kaget, ternyata sang supir berusaha menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan. “Sialan!! An****!!” umpat sang supir. Kulihat kembali stiker itu, tulisannya: “MATIKAN LISTRIK JIKA TIDAK DIPAKAI”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hujan lebat telah berganti gerimis, jalanan mulai agak macet, kemungkinan sampai di Blok M masih lama. Di sepanjang jalan Sudirman, kulihat jalur Busway koridor satu membelah jalan. Sejenak terbersit keinginan untuk naik Busway yang bebas macet, namun akhirnya kuputuskan untuk menghemat uangku tiga ribu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ratus rupiah. Mungkin sebaiknya aku mengisi waktu sambil membaca. Kurogoh tasku mencari-cari novel yang tadi kupinjam dari temanku. Judulnya ‘Anjing Sialan’, sampulnya bergambar seekor anjing yang kepalanya terkena tembakan saat sedang melompati sebuah pagar. Judulnya aneh, sudah anjing, sialan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Membaca membuatku mengantuk, sekonyong-konyong lalu dari arah belakang kudengar suara riang anak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maah…mah… liat ada mobil gede” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak menjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaah…mah… liat ada monyetnya juga”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah…maah… liat monyetnya merokok” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya masih diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaaaaa… monyetnya maen musik” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak merespon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah… liat banyak tabung gas yang kayak di rumah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menoleh melihat sebuah mobil truk yang mengangkut tabung gas elpiji, dan seekor monyet yang sedang merokok di dekat tabung-tabung itu sambil memukul-mukul tabung dengan palu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Waw… kebetulan sekali” kataku sambil menutup telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terjadi ledakan yang dahsyat. Truk itu, dan mobil-mobil di sekitarnya ikut meledak, termasuk bus yang aku tumpangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku terjaga dari tidurku. Weeew… mimpi yang mengerikan. Aku ketiduran saat membaca novel ‘Anjing Sialan’. Untunglah cuma mimpi, kupikir aku sudah mati. Rupanya bus telah sampai di terminal Blok M. Aku bergegas keluar dari bus menuju ke jalur 4, menunggu Metromini #71 jurusan Bintaro. Langit mulai gelap, aku perkirakan akan sampai di kosan sekitar pukul 19.30. Tak perlu menunggu terlalu lama, metromini #71 akhirnya datang, aku segera naik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur. Aku sempat bermimpi sedang berdiri di tepi jurang, lalu tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku hingga aku terjatuh ke jurang... lalu terdengar bunyi dentangan. Aku dibangunkan oleh suara mirip lonceng yang berdentang, “Teng…teng…teng…teng…” yang ternyata suara peringatan kereta api akan melintas. Sebelum palang untuk mencegah kendaraan melintasi rel kereta api diturunkan, bus yang kutumpangi tetap melaju berusaha melintasi rel, rupanya sang supir sedang nekat menerobos. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ban bus terperosok ke tanah yang becek saat badan bus berada di tengah rel. Supir menancap gas, namun bus tak juga maju. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang siap melintas. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penumpang panik, beberapa di antaranya segera turun dari bus. Kereta semakin dekat, dan BRRRMMM… bus kembali melaju menghindari tabrakan dengan kereta api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah melewati perlintasan rel kereta api, aku turun dan menunggu angkot yang menuju ke Ceger. Untuk ke Ceger, aku bisa naik angkot #C09, #C05, dan angkot merah yang nomornya aku lupa. Sebuah angkot bernomor #C09 berhenti di depanku, masih kosong tak berpenumpang. Aku ragu sejenak, lalu naik dan duduk di depan samping sang supir. Begitu aku naik, angkot pun segera melaju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Bagaimana kehidupanmu, Nak?” tanya sang supir tiba-tiba mengagetkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eee… Baik-baik saja, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Yang benar? Hidup itu kejam lho” kata sang supir lagi. Kulihat ada garis kesedihan yang terlukis di wajahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku tidak menjawab, lalu mulailah sang supir menceritakan kehidupannya yang menyedihkan. Bagaimana istrinya meninggalkannya, anaknya yang meninggal, terlilit banyak hutang, dipecat dari pekerjaannya di sebuah perusahaan, dan lain sebagainya. Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa hidupku juga kadang penuh dengan kesusahan, dan kadang merasa lebih baik mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kami terdiam cukup lama, yang terdengar hanya deru mesin dan suara seorang pembaca berita dari radio yang ada di angkot itu, lagi-lagi berita tentang kecelakaan pesawat, kali ini gara-gara cuaca buruk seperti saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Baiklah… “ kata sang supir tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kulihat mata sang supir berkaca-kaca, aku jadi merasa tidak enak. Aku pun diam saja. Lama kelamaan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa kali angkot tidak berhenti untuk mengambil penumpang, namun terus melaju dan bahkan semakin cepat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Cepat… makin cepat, angkot melaju semakin cepat. Aku jadi tegang, namun tidak berani bersuara. Kulihat sang supir menatap lurus penuh konsentrasi, matanya memancarkan keteguhan niat… tapi niat apa… untuk apa…? Untuk menghibur diri dari kesedihan…? Kesedihan… kesedihan… menghilangkan kesedihan… hilang… lenyap… musnah… mati!!! Bunuh diri!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Pak… eh, tunggu, anu… itu…” Aku panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Dunia memang kejam”, itulah kata-kata terakhir dari mulut supir angkot itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;SKREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE………….. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;TIIIINNNNNNNNNN!!! TIIIIIIIIIINNNNNNNNN!!! CKIIIIIIIIIITTTTTTT…….. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Angkot hampir bertabrakan dengan sebuah taksi, supir taksi membanting kemudi, angkot terus melesat meluncur menerjang lalu menghantam tembok beton kokoh pagar sebuah rumah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“AAAAAAAaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhhh….” Itu kata terakhir yang keluar dari mulutku, itupun kalau bisa disebut sebuah kata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;BRAAAAAAAAKKKKKKKKKXXXXXXXXXXXZZZZZ!!!! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Keadaan sang supir sangat mengenaskan, kepalanya hancur dan badannya remuk terjepit mobil yang ringsek. Dia sukses mengakhiri penderitaannya di dunia, dan memulai penderitaannya di neraka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku membuka mataku, tersadar dari pingsanku, seketika gelombang rasa sakit yang luar biasa menerjangku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku tak bisa berteriak, bahkan mengucapkan sepatah katapun tidak bisa, ada sesuatu yang bersarang di leherku… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Tubuhku terasa basah, dan hangat oleh darah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku berusaha menggerakkan tubuhku, berusaha keluar dari angkot dengan susah payah… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;sedikit lagi… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;aku harus berjuang… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;jangan hiraukan rasa sakit yang mendera… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Akhirnya… aku berhasil keluar dari angkot…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ah, sial… tanganku masih ketinggalan di angkot, putus ternyata… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku ingin mengambilnya tapi keburu mati kehabisan darah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 8&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Deadly Death&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir membanting kemudi bus, membuatku terhempas ke samping. Aku kaget, ternyata sang supir berusaha menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan. “Sialan!! An****!!” umpat sang supir. Kulihat kembali stiker itu, tulisannya: “MATIKAN LISTRIK JIKA TIDAK DIPAKAI”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hujan lebat telah berganti gerimis, jalanan mulai agak macet, kemungkinan sampai di Blok M masih lama. Di sepanjang jalan Sudirman, kulihat jalur Busway koridor satu membelah jalan. Sejenak terbersit keinginan untuk naik Busway yang bebas macet, namun akhirnya kuputuskan untuk menghemat uangku tiga ribu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ratus rupiah. Mungkin sebaiknya aku mengisi waktu sambil membaca. Kurogoh tasku mencari-cari novel yang tadi kupinjam dari temanku. Judulnya ‘Anjing Sialan’, sampulnya bergambar seekor anjing yang kepalanya terkena tembakan saat sedang melompati sebuah pagar. Judulnya aneh, sudah anjing, sialan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Membaca membuatku mengantuk, sekonyong-konyong lalu dari arah belakang kudengar suara riang anak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maah…mah… liat ada mobil gede” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak menjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaah…mah… liat ada monyetnya juga”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah…maah… liat monyetnya merokok” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya masih diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaaaaa… monyetnya maen musik” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak merespon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah… liat banyak tabung gas yang kayak di rumah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menoleh melihat sebuah mobil truk yang mengangkut tabung gas elpiji, dan seekor monyet yang sedang merokok di dekat tabung-tabung itu sambil memukul-mukul tabung dengan palu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Waw… kebetulan sekali” kataku sambil menutup telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terjadi ledakan yang dahsyat. Truk itu, dan mobil-mobil di sekitarnya ikut meledak, termasuk bus yang aku tumpangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku terjaga dari tidurku. Weeew… mimpi yang mengerikan. Aku ketiduran saat membaca novel ‘Anjing Sialan’. Untunglah cuma mimpi, kupikir aku sudah mati. Rupanya bus telah sampai di terminal Blok M. Aku bergegas keluar dari bus menuju ke jalur 4, menunggu Metromini #71 jurusan Bintaro. Langit mulai gelap, aku perkirakan akan sampai di kosan sekitar pukul 19.30. Tak perlu menunggu terlalu lama, metromini #71 akhirnya datang, aku segera naik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur. Aku sempat bermimpi sedang berdiri di tepi jurang, lalu tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku hingga aku terjatuh ke jurang... lalu terdengar bunyi dentangan. Aku dibangunkan oleh suara mirip lonceng yang berdentang, “Teng…teng…teng…teng…” yang ternyata suara peringatan kereta api akan melintas. Sebelum palang untuk mencegah kendaraan melintasi rel kereta api diturunkan, bus yang kutumpangi tetap melaju berusaha melintasi rel, rupanya sang supir sedang nekat menerobos. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ban bus terperosok ke tanah yang becek saat badan bus berada di tengah rel. Supir menancap gas, namun bus tak juga maju. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang siap melintas. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penumpang panik, beberapa di antaranya segera turun dari bus. Kereta semakin dekat, dan BRRRMMM… bus kembali melaju menghindari tabrakan dengan kereta api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah melewati perlintasan rel kereta api, aku turun dan menunggu angkot yang menuju ke Ceger. Untuk ke Ceger, aku bisa naik angkot #C09, #C05, dan angkot merah yang nomornya aku lupa. Sebuah angkot bernomor #C09 berhenti di depanku, masih kosong tak berpenumpang. Aku ragu sejenak, lalu naik dan duduk di depan samping sang supir. Begitu aku naik, angkot pun segera melaju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Bagaimana kehidupanmu, Nak?” tanya sang supir tiba-tiba mengagetkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eee… Baik-baik saja, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Yang benar? Hidup itu kejam lho” kata sang supir lagi. Kulihat ada garis kesedihan yang terlukis di wajahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku tidak menjawab, lalu mulailah sang supir menceritakan kehidupannya yang menyedihkan. Bagaimana istrinya meninggalkannya, anaknya yang meninggal, terlilit banyak hutang, dipecat dari pekerjaannya di sebuah perusahaan, dan lain sebagainya. Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa hidupku juga kadang penuh dengan kesusahan, dan kadang merasa lebih baik mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kami terdiam cukup lama, yang terdengar hanya deru mesin dan suara seorang pembaca berita dari radio yang ada di angkot itu, lagi-lagi berita tentang kecelakaan pesawat, kali ini gara-gara cuaca buruk seperti saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Baiklah… “ kata sang supir tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kulihat mata sang supir berkaca-kaca, aku jadi merasa tidak enak. Aku pun diam saja. Lama kelamaan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa kali angkot tidak berhenti untuk mengambil penumpang, namun terus melaju dan bahkan semakin cepat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Cepat… makin cepat, angkot melaju semakin cepat. Aku jadi tegang, namun tidak berani bersuara. Kulihat sang supir menatap lurus penuh konsentrasi, matanya memancarkan keteguhan niat… tapi niat apa… untuk apa…? Untuk menghibur diri dari kesedihan…? Kesedihan… kesedihan… menghilangkan kesedihan… hilang… lenyap… musnah… mati!!! Bunuh diri!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Pak… eh, tunggu, anu… itu…” Aku panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kecepatan angkot berkurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Sudah sampai ya?” tanya supir itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eh, iya… iya, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Angkot kemudian menepi lalu berhenti. Aku mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki. Lumayanlah sudah dekat, meskipun bukan di sini seharusnya aku turun, tapi aku merasa lega. Jantungku masih berdebar-debar, mungkin aku terlalu berburuk sangka pada supir angkot itu. Baru beberapa meter aku berjalan, tiba-tiba terdengar suara benturan yang keras, berasal tak jauh di depanku. Aku berjalan cepat-cepat ingin tahu apa yang terjadi, dan kulihat… angkot yang tadi aku tumpangi menabrak tembok beton kokoh pagar sebuah rumah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Akhirnya aku sampai di kosan, aku segera merebahkan tubuhku yang lelah ke tempat tidur. Aku memejamkan mata, menikmati saat-saat istirahatku. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari atas bercampur suara dengingan… Awalnya tidak begitu jelas, lalu semakin jelas dan keras, memekakkan telinga. Atap kamarku berderak-derak sampai akhirnya runtuh menimpaku. Tubuhku hancur tertimbun reruntuhan bangunan Puri Lestari – kosanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 9&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Big Bird&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir membanting kemudi bus, membuatku terhempas ke samping. Aku kaget, ternyata sang supir berusaha menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan. “Sialan!! An****!!” umpat sang supir. Kulihat kembali stiker itu, tulisannya: “MATIKAN LISTRIK JIKA TIDAK DIPAKAI”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hujan lebat telah berganti gerimis, jalanan mulai agak macet, kemungkinan sampai di Blok M masih lama. Di sepanjang jalan Sudirman, kulihat jalur Busway koridor satu membelah jalan. Sejenak terbersit keinginan untuk naik Busway yang bebas macet, namun akhirnya kuputuskan untuk menghemat uangku tiga ribu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ratus rupiah. Mungkin sebaiknya aku mengisi waktu sambil membaca. Kurogoh tasku mencari-cari novel yang tadi kupinjam dari temanku. Judulnya ‘Anjing Sialan’, sampulnya bergambar seekor anjing yang kepalanya terkena tembakan saat sedang melompati sebuah pagar. Judulnya aneh, sudah anjing, sialan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Membaca membuatku mengantuk, sekonyong-konyong lalu dari arah belakang kudengar suara riang anak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maah…mah… liat ada mobil gede” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak menjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaah…mah… liat ada monyetnya juga”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah…maah… liat monyetnya merokok” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya masih diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaaaaa… monyetnya maen musik” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak merespon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah… liat banyak tabung gas yang kayak di rumah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menoleh melihat sebuah mobil truk yang mengangkut tabung gas elpiji, dan seekor monyet yang sedang merokok di dekat tabung-tabung itu sambil memukul-mukul tabung dengan palu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Waw… kebetulan sekali” kataku sambil menutup telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terjadi ledakan yang dahsyat. Truk itu, dan mobil-mobil di sekitarnya ikut meledak, termasuk bus yang aku tumpangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku terjaga dari tidurku. Weeew… mimpi yang mengerikan. Aku ketiduran saat membaca novel ‘Anjing Sialan’. Untunglah cuma mimpi, kupikir aku sudah mati. Rupanya bus telah sampai di terminal Blok M. Aku bergegas keluar dari bus menuju ke jalur 4, menunggu Metromini #71 jurusan Bintaro. Langit mulai gelap, aku perkirakan akan sampai di kosan sekitar pukul 19.30. Tak perlu menunggu terlalu lama, metromini #71 akhirnya datang, aku segera naik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur. Aku sempat bermimpi sedang berdiri di tepi jurang, lalu tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku hingga aku terjatuh ke jurang... lalu terdengar bunyi dentangan. Aku dibangunkan oleh suara mirip lonceng yang berdentang, “Teng…teng…teng…teng…” yang ternyata suara peringatan kereta api akan melintas. Sebelum palang untuk mencegah kendaraan melintasi rel kereta api diturunkan, bus yang kutumpangi tetap melaju berusaha melintasi rel, rupanya sang supir sedang nekat menerobos. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ban bus terperosok ke tanah yang becek saat badan bus berada di tengah rel. Supir menancap gas, namun bus tak juga maju. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang siap melintas. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penumpang panik, beberapa di antaranya segera turun dari bus. Kereta semakin dekat, dan BRRRMMM… bus kembali melaju menghindari tabrakan dengan kereta api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah melewati perlintasan rel kereta api, aku turun dan menunggu angkot yang menuju ke Ceger. Untuk ke Ceger, aku bisa naik angkot #C09, #C05, dan angkot merah yang nomornya aku lupa. Sebuah angkot bernomor #C09 berhenti di depanku, masih kosong tak berpenumpang. Aku ragu sejenak, lalu naik dan duduk di depan samping sang supir. Begitu aku naik, angkot pun segera melaju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Bagaimana kehidupanmu, Nak?” tanya sang supir tiba-tiba mengagetkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eee… Baik-baik saja, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Yang benar? Hidup itu kejam lho” kata sang supir lagi. Kulihat ada garis kesedihan yang terlukis di wajahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku tidak menjawab, lalu mulailah sang supir menceritakan kehidupannya yang menyedihkan. Bagaimana istrinya meninggalkannya, anaknya yang meninggal, terlilit banyak hutang, dipecat dari pekerjaannya di sebuah perusahaan, dan lain sebagainya. Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa hidupku juga kadang penuh dengan kesusahan, dan kadang merasa lebih baik mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kami terdiam cukup lama, yang terdengar hanya deru mesin dan suara seorang pembaca berita dari radio yang ada di angkot itu, lagi-lagi berita tentang kecelakaan pesawat, kali ini gara-gara cuaca buruk seperti saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Baiklah… “ kata sang supir tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kulihat mata sang supir berkaca-kaca, aku jadi merasa tidak enak. Aku pun diam saja. Lama kelamaan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa kali angkot tidak berhenti untuk mengambil penumpang, namun terus melaju dan bahkan semakin cepat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Cepat… makin cepat, angkot melaju semakin cepat. Aku jadi tegang, namun tidak berani bersuara. Kulihat sang supir menatap lurus penuh konsentrasi, matanya memancarkan keteguhan niat… tapi niat apa… untuk apa…? Untuk menghibur diri dari kesedihan…? Kesedihan… kesedihan… menghilangkan kesedihan… hilang… lenyap… musnah… mati!!! Bunuh diri!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Pak… eh, tunggu, anu… itu…” Aku panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kecepatan angkot berkurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Sudah sampai ya?” tanya supir itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eh, iya… iya, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Angkot kemudian menepi lalu berhenti. Aku mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki. Lumayanlah sudah dekat, meskipun bukan di sini seharusnya aku turun, tapi aku merasa lega. Jantungku masih berdebar-debar, mungkin aku terlalu berburuk sangka pada supir angkot itu. Baru beberapa meter aku berjalan, tiba-tiba terdengar suara benturan yang keras, berasal tak jauh di depanku. Aku berjalan cepat-cepat ingin tahu apa yang terjadi, dan kulihat… angkot yang tadi aku tumpangi menabrak tembok beton kokoh pagar sebuah rumah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Akhirnya aku sampai di kosan, aku segera merebahkan tubuhku yang lelah ke tempat tidur. Tiba-tiba kepalaku pening, perasaanku tidak enak, tidak nyaman, dan aku merasa tidak aman. Aku segera keluar dari kos, hendak membeli obat sakit kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Di jalan kulihat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;orang-orang sedang menatap ke langit. Kutengadahkan kepala dan kulihat kepulan asap yang membentang di angkasa, dari sebuah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Burung?? Bukan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Roket?? Mungkin…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Pesawat!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Pesawat jatuuuuhhhh…….!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Beberapa lama aku takjub melihat pemandangan itu, sampai akhirnya sadar akan bahaya yang datang, meski sudah terlambat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Terdengar gemuruh suara disertai dengingan mesin pesawat yang makin keras, sudah terlambat untuk menyelamatkan diri. Pesawat itu jatuh menukik menghantam atap kosanku hingga hancur, lalu terjadilah ledakan dahsyat yang menghancurkan apa yang ada di sekitarnya, termasuk aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Part 10&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Last Life&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Sore itu cuaca agak mendung, angin bertiup cukup kencang disertai kilatan petir dan suara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menggelegar. Aku berjalan cepat-cepat keluar dari kantor. Mudah-mudahan hujan belum turun sebelum aku sampai di kosan. Dari kantor ke kosku lamanya kira-kira dua jam, dengan tiga kali ganti angkutan. Perjalanan yang melelahkan, belum lagi para supir angkutan yang ugal-ugalan dan suka mengebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku paling benci menyeberang jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan, seperti yang harus aku lakukan setiap kali pulang dari kantor. Beberapa menit lamanya aku berdiri di tepi jalan menunggu kesempatan untuk menyeberang, kalau begini terus bisa-bisa kehujanan nih. Dan benar saja, hujan turun tanpa permisi dengan lebatnya. Aku melihat ada celah, tanpa pikir panjang aku melesat menyeberangi jalan itu. Belum sempat aku sampai di seberang jalan, tiba-tiba kakiku terpeleset genangan air yang ada di jalan. Aku kehilangan keseimbangan terhuyung ke belakang dan… WUZZZ… Sebuah truk melesat hampir menyambar tubuhku. Dengan panik aku berjuang mencari keseimbangan lalu berusaha mencapai tepi jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;FIUUH… hampir saja aku celaka, tiba-tiba sebuah cahaya muncul bagaikan lampu &lt;i style=""&gt;blitz &lt;/i&gt;sebuah kamera raksasa, lalu BLAARR!!! terdengar suara gelegar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;guntur&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang membahana. Aku kaget bukan main mendengarnya. Sebaiknya aku cepat-cepat, bisa-bisa aku disambar petir. Aku berlari-lari kecil melewati dua orang pekerja yang sedang mengangkat sebuah pintu kaca, mungkin untuk dipasang di kantor, karena kantor memang sedang direnovasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah menunggu beberapa lama, bus angkutan yang kutunggu akhirnya datang juga: Kopaja #20. Aku terpaksa berdiri di dekat pintu karena tempat duduknya terisi semua dan yang berdiri juga banyak. Jalan yang dilalui cukup lengang, dan itu dimanfaatkan oleh si supir untuk mengebut. BRRRRMMMM… bus melaju dengan kencangnya, bahkan di tikungan pun tetap kencang, membuat bus sedikit oleng. Sang supir tidak menghiraukan omelan-omelan para penumpang. Aku berpegangan kuat-kuat di sandaran kursi, namun tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut yang pegangannya terlepas menubrukku, aku terhempas. Sebuah tangan menarikku sebelum tubuhku terlempar ke luar dari bus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Hati-hati dong, Mas. Ke tengah… ke tengah…! Tengah masih kosong tuh” kata kondektur bus yang tadi menolongku. Aku menurut, sambil memperhatikan tato bergambar tengkorak yang dipukul martil di lengan kondektur itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;        Aku turun dari bus di daerah Kuningan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan bus Kopaja #66. Untunglah bus kali ini tidak terlalu penuh, aku dapat tempat duduk di depan samping pak supir yang siap mengebut, mengendarai kopaja supaya cepat sampainya. Bus melaju di sepanjang jalan Gatot Subroto, biasanya jalanan tidak akan macet sampai di jalan Sudirman. Dua orang ibu-ibu yang duduk di belakangku sedang mengobrol tentang konversi minyak tanah ke gas, mereka tidak setuju dengan alasan gas itu berbahaya. Aku tersenyum mendengarnya, minyak tanah juga berbahaya kalau kita tidak hati-hati, hanya masalah takdir, pikirku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Bus melaju semakin cepat, aku tidak ambil pusing, soalnya aku juga ingin cepat-cepat sampai. Sebuah stiker yang menempel di kaca depan bus menarik perhatianku, tulisannya tidak begitu jelas karena &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; penulisannya yang rumit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha membaca tulisan di stiker itu, ah… yaaa… aku tahu… tulisannya: ‘MATI…’. Tiba-tiba sang supir membanting kemudi bus, membuatku terhempas ke samping. Aku kaget, ternyata sang supir berusaha menghindari menabrak seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan. “Sialan!! An****!!” umpat sang supir. Kulihat kembali stiker itu, tulisannya: “MATIKAN LISTRIK JIKA TIDAK DIPAKAI”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Hujan lebat telah berganti gerimis, jalanan mulai agak macet, kemungkinan sampai di Blok M masih lama. Di sepanjang jalan Sudirman, kulihat jalur Busway koridor satu membelah jalan. Sejenak terbersit keinginan untuk naik Busway yang bebas macet, namun akhirnya kuputuskan untuk menghemat uangku tiga ribu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ratus rupiah. Mungkin sebaiknya aku mengisi waktu sambil membaca. Kurogoh tasku mencari-cari novel yang tadi kupinjam dari temanku. Judulnya ‘Anjing Sialan’, sampulnya bergambar seekor anjing yang kepalanya terkena tembakan saat sedang melompati sebuah pagar. Judulnya aneh, sudah anjing, sialan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Membaca membuatku mengantuk, sekonyong-konyong lalu dari arah belakang kudengar suara riang anak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maah…mah… liat ada mobil gede” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak menjawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaah…mah… liat ada monyetnya juga”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah…maah… liat monyetnya merokok” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya masih diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaaaaaa… monyetnya maen musik” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Ibunya tidak merespon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Maaah… liat banyak tabung gas yang kayak di rumah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menoleh melihat sebuah mobil truk yang mengangkut tabung gas elpiji, dan seekor monyet yang sedang merokok di dekat tabung-tabung itu sambil memukul-mukul tabung dengan palu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Waw… kebetulan sekali” kataku sambil menutup telinga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terjadi ledakan yang dahsyat. Truk itu, dan mobil-mobil di sekitarnya ikut meledak, termasuk bus yang aku tumpangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku terjaga dari tidurku. Weeew… mimpi yang mengerikan. Aku ketiduran saat membaca novel ‘Anjing Sialan’. Untunglah cuma mimpi, kupikir aku sudah mati. Rupanya bus telah sampai di terminal Blok M. Aku bergegas keluar dari bus menuju ke jalur 4, menunggu Metromini #71 jurusan Bintaro. Langit mulai gelap, aku perkirakan akan sampai di kosan sekitar pukul 19.30. Tak perlu menunggu terlalu lama, metromini #71 akhirnya datang, aku segera naik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku menghabiskan waktu selama perjalanan dengan tidur. Aku sempat bermimpi sedang berdiri di tepi jurang, lalu tiba-tiba sebuah tangan menarik kakiku hingga aku terjatuh ke jurang... lalu terdengar bunyi dentangan. Aku dibangunkan oleh suara mirip lonceng yang berdentang, “Teng…teng…teng…teng…” yang ternyata suara peringatan kereta api akan melintas. Sebelum palang untuk mencegah kendaraan melintasi rel kereta api diturunkan, bus yang kutumpangi tetap melaju berusaha melintasi rel, rupanya sang supir sedang nekat menerobos. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ban bus terperosok ke tanah yang becek saat badan bus berada di tengah rel. Supir menancap gas, namun bus tak juga maju. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang siap melintas. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penumpang panik, beberapa di antaranya segera turun dari bus. Kereta semakin dekat, dan BRRRMMM… bus kembali melaju menghindari tabrakan dengan kereta api.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Setelah melewati perlintasan rel kereta api, aku turun dan menunggu angkot yang menuju ke Ceger. Untuk ke Ceger, aku bisa naik angkot #C09, #C05, dan angkot merah yang nomornya aku lupa. Sebuah angkot bernomor #C09 berhenti di depanku, masih kosong tak berpenumpang. Aku ragu sejenak, lalu naik dan duduk di depan samping sang supir. Begitu aku naik, angkot pun segera melaju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Bagaimana kehidupanmu, Nak?” tanya sang supir tiba-tiba mengagetkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eee… Baik-baik saja, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Yang benar? Hidup itu kejam lho” kata sang supir lagi. Kulihat ada garis kesedihan yang terlukis di wajahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku tidak menjawab, lalu mulailah sang supir menceritakan kehidupannya yang menyedihkan. Bagaimana istrinya meninggalkannya, anaknya yang meninggal, terlilit banyak hutang, dipecat dari pekerjaannya di sebuah perusahaan, dan lain sebagainya. Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa hidupku juga kadang penuh dengan kesusahan, dan kadang merasa lebih baik mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kami terdiam cukup lama, yang terdengar hanya deru mesin dan suara seorang pembaca berita dari radio yang ada di angkot itu, lagi-lagi berita tentang kecelakaan pesawat, kali ini gara-gara cuaca buruk seperti saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Baiklah… “ kata sang supir tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kulihat mata sang supir berkaca-kaca, aku jadi merasa tidak enak. Aku pun diam saja. Lama kelamaan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa kali angkot tidak berhenti untuk mengambil penumpang, namun terus melaju dan bahkan semakin cepat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Cepat… makin cepat, angkot melaju semakin cepat. Aku jadi tegang, namun tidak berani bersuara. Kulihat sang supir menatap lurus penuh konsentrasi, matanya memancarkan keteguhan niat… tapi niat apa… untuk apa…? Untuk menghibur diri dari kesedihan…? Kesedihan… kesedihan… menghilangkan kesedihan… hilang… lenyap… musnah… mati!!! Bunuh diri!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Pak… eh, tunggu, anu… itu…” Aku panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Kecepatan angkot berkurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Sudah sampai ya?” tanya supir itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;“Eh, iya… iya, Pak” jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Angkot kemudian menepi lalu berhenti. Aku mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki. Lumayanlah sudah dekat, meskipun bukan di sini seharusnya aku turun, tapi aku merasa lega. Jantungku masih berdebar-debar, mungkin aku terlalu berburuk sangka pada supir angkot itu. Baru beberapa meter aku berjalan, tiba-tiba terdengar suara benturan yang keras, berasal tak jauh di depanku. Aku berjalan cepat-cepat ingin tahu apa yang terjadi, dan kulihat… angkot yang tadi aku tumpangi menabrak tembok beton kokoh pagar sebuah rumah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;---&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Akhirnya aku sampai di kosan, aku segera merebahkan tubuhku yang lelah ke tempat tidur. Tiba-tiba kepalaku pening, perasaanku tidak enak, tidak nyaman, dan aku merasa tidak aman. Aku segera keluar dari kos, hendak membeli obat sakit kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Di jalan kulihat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang-orang sedang menatap ke langit. Kutengadahkan kepala dan kulihat kepulan asap yang membentang di angkasa, dari sebuah… pesawat! Jangan-jangan pesawat itu jatuh… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku berlari dengan panik, kalau pesawat itu benar-benar jatuh… aku harus menyelamatkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Berlari… aku terus berlari, jauh… lebih jauh lagi…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Entah berapa jauh aku berlari saat suara dentuman dahsyat itu terdengar, lalu ledakan… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;BOOOOOOMMMMMMMM…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;DUAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Tanah di sekitarku bergetar, aku terjatuh… kaget setengah mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;(Aman, aku aman… dari ledakan itu. Eh, sampai di mana aku berlari? Aku berada di sebuah jalan raya, Bintaro Jaya… )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;(Apa ini? Kok ada bayangan besar… )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;Aku mendongak dan melihat sebuah papan iklan raksasa sedang jatuh ke arahku, lalu menimpaku…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;BUMMM!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11pt;"  &gt;THE END&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-2643171342135544006?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/2643171342135544006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=2643171342135544006' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/2643171342135544006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/2643171342135544006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/09/me-and-death.html' title='Me and the Death'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-6881700748641114458</id><published>2007-09-27T00:48:00.000-07:00</published><updated>2007-09-28T00:58:14.285-07:00</updated><title type='text'>Saat Magang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;25 September 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 7:40 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Aku, sedang menatap komputer di meja kerja salah seorang pegawai yang sedang cuti, mengetikkan kata-kata ini. Perutku agak mulas, padahal tadi pagi sudah buang air besar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Salah seorang pegawai sedang berdiri tidak jauh dariku, sedang meneliti arsip-arsip, kemudian beranjak pergi. Seorang pegawai lainnya sedang baca koran, sambil mengobrol dengan kawannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Terdengar bunyi dering telepon di kejauhan, kemungkinan berasal dari seksi lain. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pegawai di seksi tempat aku berada kelihatan tidak begitu sibuk, beberapa di antara mereka malah sedang keluar entah ke mana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 7:51 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Samar-samar terdengar suara lagu yang berasal dari salah satu komputer, judulnya Sandaran Hati, yang dinyanyikan oleh Letto. Aku menggigil, terasa olehku hembusan udara dari AC yang berada di dekatku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Selain aku, tinggal tiga orang pegawai yang masih tinggal di seksi ini. Salah seorang sedang tidur, yang satu sedang baca koran, dan yang satunya lagi sedang mengutak-atik komputer. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Udara terasa semakin dingin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 8:00 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Setelah komputer yang aku pakai tidak bisa lagi tersambung ke intranet, aku semakin kesulitan membunuh waktu. Maklum selama magang di KPP ini, para pegawainya tidak pernah memberiku tugas. Aku jadi iri dengan temanku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang ditempatkan di seksi PDI, setiap hari ditugasi merekam SPT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Pukul sembilan nanti aku mau ke seksi PDI, siapa tahu mereka butuh bantuanku. Daripada di sini, aku tak tahu mau mengerjakan apa. Awalnya memang menyenangkan, tapi lama-lama jadi bosan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Terdengar suara obrolan tentang hadits…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 8:35 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Dalam kebosananku terbersit gagasan untuk menulis sesuatu untuk mengisi blog-ku. Cerita tentang kematian. Yaaah… lumayan untuk mengisi waktu. Kupikir aku tidak perlu ke seksi PDI pukul sembilan nanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 10:17 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Yak… cerita tentang kematianku sudah cukup banyak, aku masih perlu dua kisah lagi untuk merampungkannya. Judulnya: ”Me and the Death”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Hari ini di kantor tempatku magang akan diadakan acara buka bersama, rencananya aku dan teman-temanku mau ikut buka bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Waa… ada seorang pegawai yang lagi memotret-motret, entah buat apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 11:42 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Satu kisah lagi, tapi aku kehabisan ide. Sebentar lagi shalat dhuhur, mungkin setelah shalat aku dapat berpikir lebih jernih. Sekarang aku mau ke toilet, mungkin gara-gara udara dingin di kantor aku jadi sering buang air kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 11:46 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Sial! Toiletnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lagi dipakai. Aku tunggu saja, malas kalau harus ke toilet di lantai lain. Masih bisa kutahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Saat ini para pegawai di seksiku – Waskon 3 – telah standby di tempat mereka masing-masing. Kecuali kepala seksinya, sedang cuti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Biasanya sehabis shalat dhuhur aku akan tidur di mushalla sampai pukul dua siang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 11:54 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Wah, ada seorang pegawai yang membawa bantal ke ruang kepala seksi Waskon 3 yang sedang cuti. Sudah bisa ditebak, pasti mau tidur. Dan memang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Waw, ada anak SMU cewek yang sedang mengantar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ke seksiku, sekilas kulihat dia melirikku. Apa aku terlalu ganteng??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Uww.. perutku berkeriyuk pertanda lapar, buka puasanya masih lama. Sambil menunggu waktu shalat dhuhur aku mau tiduran dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 12:06 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Nah, akhirnya adzan juga. Terdengar komentar-komentar dari para pegawai di dekatku tentang orang yang sedang adzan itu, “Suaranya terlalu ditahan… Maksa banget… Bla..bla..bla..”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Shalat dulu yok…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 01:54 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Ngantukk. Aku habis tidur di mushalla. Aku kembali ke mejaku lalu melanjutkan tidur…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 03:06 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Aku dibangunkan oleh suara adzan shalat asar. Aku pun bergegas ke mushalla.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pukul 04:23 am&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Selama Ramadhan, jam pulang kantor yang biasanya pukul &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt; sore, berubah menjadi pukul setengah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sebentar lagi saatnya pulang. Nanti, setelah mengabsen dengan menggunakan fingerprint di lantai dua, aku akan ikut dalam acara buka puasa bersama yang diadakan kantor di lantai &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, lalu pulang dengan menumpang mobil teman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-6881700748641114458?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/6881700748641114458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=6881700748641114458' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/6881700748641114458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/6881700748641114458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/09/25-september-2007-pukul-740-am-aku.html' title='Saat Magang'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-8304501270794842399</id><published>2007-08-03T23:32:00.000-07:00</published><updated>2011-12-29T18:11:28.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistory'/><title type='text'>Panggilan di Kegelapan Akhir Malam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku bangkit dari tidurku, samar-samar terdengar suara memanggil-manggil... bukan seperti bahasa yang biasa kudengar, tapi aku tahu pasti itu suara panggilan. kubuka pintu kamarku, dinginnya angin malam menyeruak masuk ke kamarku, aku mengigil. suara itu masih terdengar. aku berjalan ke kamar mandi, membasuh kulitku dengan air sedingin es, berusaha mengenyahkan sisa-sisa bunga tidur yang masih menempel di pikiranku. Suara itu... bukan bagian dari bunga tidurku, aku masih bisa mendengarnya, malah semakin jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;kulangkahkan kakiku menyusuri jalan-jalan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang sepi, sebagian besar jiwa masih terlelap di pembaringannya, memberi kesan seakan-akan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu telah mati. Suara itu telah berhenti, demikian pula langkahku. Di hadapanku berdiri menjulang tinggi sebuah bangunan tua yang namanya telah ada ribuan tahun yang lalu. Tanpa keraguan sedikitpun aku memasukinya, bersama beberapa orang yang juga telah dibangkitkan. Suara itu kembali terdengar memenuhi rongga kepalaku, hanya saja kali ini lebih singkat. Tak ada kebingungan, tak ada tanda tanya dalam hatiku, aku hanya melakukannya... seperti semua orang melakukannya... aku pun shalat subuh di mesjid, yang sangat jarang kulakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-8304501270794842399?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/8304501270794842399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=8304501270794842399' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/8304501270794842399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/8304501270794842399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/08/panggilan-di-kegelapan-akhir-malam.html' title='Panggilan di Kegelapan Akhir Malam'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-6376941294374123755</id><published>2007-08-03T23:13:00.000-07:00</published><updated>2010-01-26T00:36:39.246-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='La La La Love'/><title type='text'>Dan Memang Begitulah Adanya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Awalnya aku tak ingin mempublikasikan tulisan ini, karena kupikir isinya bukan &lt;i style=""&gt;gue banget&lt;/i&gt;. Tapi manusia itu tidak hanya terdiri dari satu sisi saja, bukan? Lagipula, seperti yang dikatakan kakakku: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Don't bother with what people think. Blog for your self...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Jangan salahkan aku mengalaminya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Bukan aku yang mencarinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mendatangiku seenaknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Menawarkan padaku segala&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keindahannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Lalu membantaiku dengan kejamnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Suatu hari di bulan Februari, kala malam mulai mendera bumi, dan bintang-bintang mulai muncul dengan cahayanya yang malu-malu. Aku terombang ambing dalam sebuah bus metromini dalam perjalanan pulang dari melaksanakan tugas rutin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Perjalanan panjang dan melelahkan bersama bus itu akhirnya berakhir juga meskipun bukan di tempat seharusnya aku turun. Sisa perjalanan itu kutempuh dengan berjalan kaki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Rasa lelah yang kualami bisa sedikit teratasi dengan hadirnya seorang gadis - teman senasibku - yang juga baru pulang dari tempat yang sama denganku. Gadis itu tingginya tidak melebihi aku, kalau boleh dibilang ‘mungil’. Menurutku wajahnya tidak begitu menarik, meskipun menurutku juga tidak begitu jelek. Setidaknya melihat kelelahan yang sama di diri orang lain, bagiku bisa mengurangi kelelahan diri sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kami berjalan menyusuri trotoar di tengah hiruk pikuk manusia dan deru kendaraan yang terjebak macet. Gadis itu melangkah cepat-cepat, berusaha mengimbangi langkahku yang sudah tidak sabar ingin sampai di kost. Sebentar lagi kami berpisah di perempatan jalan yang terbentang di depan, tapi sebelum itu terjadi, gadis itu mengajakku makan malam di warung yang ada di pinggir jalan. Kupikir tak ada salahnya menemani gadis “kecil” itu makan, meskipun saat itu aku belum terlalu lapar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kami makan dalam diam, sampai kemudian dipecahkan oleh obrolan ringan yang tidak begitu penting. Diiringi tawa lelah yang agak dipaksakan. Sesaat kebisuan kembali melingkupi kami, tenggelam dalam lautan pikiran masing-masing. Kembali menikmati makanan yang belum juga habis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dan kemudian aku jadi resah, aku merasa saat-saat itu seharusnya tidak aku lewatkan dalam kesia-siaan diam. Saat yang jarang kualami: makan malam bersama seorang gadis. Entah mengapa, kehadirannya di sampingku terasa begitu menyenangkan, bukan lagi karena perasaan merasa senasib, atau alasan berbingkai logika, seperti “mengurangi rasa lelah”. Perasaan ini tak terjelaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Diam-diam kupalingkan wajah meliriknya, berusaha menangkap citra yang terlukis dalam wajah itu. Ternyata gadis itu lumayan manis juga, bukan hanya itu... keindahan sang bintang seakan terbias di wajahnya… entahlah, tapi dia terlihat begitu mempesona, seakan dia baru saja menyingkap tabir yang selama ini menyelubungi keindahannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sebuah ketertarikan irasional pun telah terbentuk dalam diriku, yang tak terjelaskan meski oleh lukisan abstrak sekalipun. Keresahanku berubah menjadi kegelisahan yang tak wajar, kucoba mengalihkan pikiranku ke makanan yang tengah aku santap. Namun perasaan itu tak kunjung hilang, malah semakin hangat menyelimutiku seperti sebuah selimut tebal nan lembut di kala dingin menggerogoti tubuh, begitu nyaman terasa... memaksaku untuk kembali menoleh dan menatap sebuah mahakarya ciptaan Tuhan yang begitu indah, yang tengah duduk di sampingku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam sebuah warung di pinggir jalan, yang disirami warna keemasan sinar sang rembulan, aku menyadari apa yang terjadi pada diriku, dan aku pun menyerah pada perasaan ini, perasaan yang telah lama ada sejak dahulu kala, yang selalu menghiasi kisah hidup manusia. Aku tak menyangkalnya lagi kalau aku telah jatuh cinta pada gadis itu, meski oleh hal sepele makan malam berdua di warung pinggir jalan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;----&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;ENDING:&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah sekian lama rasa cinta itu bersarang di hatiku seperti sebuah parasit yang mengerikan, aku pun mendengar kabar kalau gadis itu akan segera menikah dengan pacarnya, menghancur leburkan segala harapan, asa, dan impianku. Sayangnya parasit cinta itu tetap bersarang di hatiku, tak mau pergi jua. Membuat jiwaku sekarat dan hatiku terluka parah. Dalam ketakberdayaan itu, aku bertekuk lutut pada takdir yang berdiri pongah di hadapanku. Pedang yang tergenggam erat di tangannya diayunkannya menembus dadaku, menyakitkan tapi tak mematikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dan Cinta itu pun kemudian tertawa&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Satu lagi manusia tolol jadi korbannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Manusia rapuh yang dijangkiti dengan mudahnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Benarkah diri ini sedemikian lemahnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Aku pun bertanya pada hati yang terluka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dan ”memang begitulah adanya”,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jawabnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-6376941294374123755?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/6376941294374123755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=6376941294374123755' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/6376941294374123755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/6376941294374123755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/08/dan-memang-begitulah-adanya.html' title='Dan Memang Begitulah Adanya'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-42390310690237033</id><published>2007-07-25T23:38:00.001-07:00</published><updated>2010-01-26T00:23:50.061-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistory'/><title type='text'>Masalah Kepala</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Semakin dewasa, ingatan akan masa kecilku terasa semakin samar. Berhubung tak ada pengalamanku saat ini yang bisa ditulis, kucoba menyusun kembali potongan-potongan ingatan masa kecilku tentang sebuah rasa sakit yang terlupakan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pangkajene, Agustus 198?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat itu aku masih kecil, belum lagi sekolah. Pikiranku masih dipenuhi keinginan untuk bermain dan bergembira. Hari mulai menjelang siang, suasana rumah terasa sepi karena beberapa anggota keluarga sedang keluar. Aku ditemani sepupu dan temanku mulai merasa bosan bermain di sekitar rumah. Salah seorang dari mereka menyarankan untuk menonton lomba Gerak Jalan di pinggir jalan yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Mereka berdua sepakat, tinggal aku sendiri yang ragu, mengingat pesan ibuku untuk tidak jauh-jauh dari rumah. Karena tidak mau ditinggal sendiri, akhirnya aku ikut mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku ingat saat kami berjalan menyusuri jalan berbatu menuju jalan yang diaspal yang merupakan rute Gerak Jalan yang ingin kami tonton, aku begitu bersemangat waktu itu meski sedikit merasa bersalah... setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, memori setelahnya hilang sama sekali dari otakku sampai sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat aku membuka mata, kudapati diriku sedang berbaring di atas ranjang dalam rumahku. Aku merasa begitu lemah, dari penuturan keluargaku aku telah ditabrak motor saat tengah menonton lomba Gerak Jalan. Tentang bagaimana aku ditabrak motor dan dilarikan ke rumah sakit hanya kudengar dari cerita orang-orang, aku sendiri sama sekali tidak ingat apa-apa tentang itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku mendapat jahitan di kepala gara-gara benturan saat ditabrak motor. Katanya sih, setelah kejadian itu perilakuku sedikit berubah, jadi sedikit linglung. Kata ibuku sebelumnya dokter yang menanganiku sempat mengingatkan untuk tidak heran jika nantinya aku bersikap agak aneh, mungkin pengaruh dari benturan di kepala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hanya saja tak ada yang tahu, saat malam tiba ketika semua terlelap dalam tidurnya aku biasa bangun gara-gara sakit kepala yang tak tertahankan. Tak ada suara yang keluar, hanya air mata yang meleleh menahan penderitaan. Dan terkadang samar-samar kulihat sekelebat bayangan melintas cepat dalam kegelapan. Pernah ibuku mendapatiku sedang menangis di tengah malam. Saat ditanya aku menjawab: &lt;em&gt;"Ada orang yang mau mengambil kepalaku"&lt;/em&gt;. Aku lupa apa yang dikatakan ibuku, yang jelas setelahnya aku merasa lebih tenang. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit di tengah malam itu menghilang dan terlupakan, sampai...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta, 21 Juli 2007&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diklat telah selesai dan aku dinyatakan lulus. Sebuah beban rasanya terangkat dari pundakku. Kupikir malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Jam di hapeku menunjukkan pukul 10:10 malam. setelah menamatkan sebuah novel, aku matikan lampu kamarku dan bergegas tidur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah beberapa jam tertidur, aku dibangunkan oleh suara-suara gaduh yang janggal di luar kamarku. Aku bangkit dengan susah payah karena masih mengantuk, kuraba-raba dinding kamarku mencari sakelar lampu. Kutekan sakelar lampu namun tak terjadi apa-apa. Dengan perasaan kesal aku kembali tidur, besok aku harus beli lampu yang baru, pikirku. Belum sempat kepalaku menyentuh bantal, sekonyong-konyong gelombang rasa sakit yang luar biasa merambati kepalaku. Tubuhku jadi kaku, tak ada suara yang keluar. Samar-samar terdengar suara-suara yang mirip desiran angin di sekitarku. Dan mungkin hanya imajinasiku sesuatu terlihat berkelebat dalam gelapnya kamarku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pagi menyapa bumi, aku membuka mataku dan kulihat langit-langit kamarku yang dicat kuning pucat. Aku merasa sangat haus, dengan enggan aku berusaha bangkit untuk minum. Namun aneh, meskipun merasa sudah bangkit, aku masih bisa melihat langit-langit kamarku. Tiba-tiba mataku terbelalak dan jantungku terasa berhenti berdetak (atau mungkin memang begitu) melihat pemandangan yang menakutkan di depan mataku: Aku melihat seseorang tengah berdiri di dekat dispenser dalam kamarku, memakai baju kaos putih bertuliskan Telkomsel yang merupakan baju pemberian kakakku, dan tanpa kepala. Perlu waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa aku tengah memandang tubuhku sendiri, aku berteriak histeris dan kepalaku menggelinding dari bantal meninggalkan jejak bercak darah yang mengerikan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Orang itu telah mengambil kepalaku&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TamaT&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;br /&gt;(KETERANGAN: Paragraf 1-3 adalah fakta, sisanya kebanyakan fiksi... hehehe... akhirnya pengalaman masa kecilku berubah jadi cerita fiksi murahan, siapa yang marah?? ini Blogku sendiri kok! Gyahahahahaha...)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-42390310690237033?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/42390310690237033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=42390310690237033' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/42390310690237033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/42390310690237033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/07/masalah-kepala.html' title='Masalah Kepala'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-2697893517965522632</id><published>2007-07-19T01:55:00.000-07:00</published><updated>2007-07-19T02:01:59.503-07:00</updated><title type='text'>Magang dan (Magang)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wah senangnya akhirnya ada juga kesibukan yang bisa dilakukan sebelum penempatan, yaitu magang. Daripada menganggur bosan tidak ada kerjaan, memang sebaiknya kami ini (alumni STAN akuntansi yang masuk pajak gelombang 2) dimagangkan. Selain membiasakan diri menghadapi dunia kerja sebelum penempatan, juga bisa bertemu kembali dengan teman-teman senasib (meskipun hanya beberapa orang). Yah.. mudah-mudahan dengan adanya magang ini pengalamanku makin bertambah, agar aku bisa bekerja dengan sebaik-baiknya nanti.&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aaaarrrghh... magang lagi, magang lagi! capeeeek! mana mulainya dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore, bisa-bisa kepala dan pantat kepanasan niih.. belum lagi kalau pegawai-pegawai di kantor nanti memberi tugas-tugas yang merepotkan. Cih!! kenapa tidak diliburkan terus saja sih, biar aku bisa pulkam buat menggemukkan diri [sekarang beratku turun 12 kg sejak datang ke Jakarta]. Huh.. mudah-mudahan nanti tidak terjadi hal-hal yang menyebalkan saat magang.&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-2697893517965522632?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/2697893517965522632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=2697893517965522632' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/2697893517965522632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/2697893517965522632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/07/magang-dan-magang.html' title='Magang dan (Magang)'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-4324164745997258473</id><published>2007-07-13T02:38:00.001-07:00</published><updated>2007-07-16T22:55:59.248-07:00</updated><title type='text'>PR yang Sulit</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dulu waktu masih SD salah satu PR yang paling tidak aku sukai adalah 'menceritakan pengalaman saat liburan'. Menuangkan pikiran dalam tulisan adalah sulit bagiku (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;menuangkan dalam lisan apalagi&lt;/span&gt;). Sekarang aku ingin kembali menerima tantangan itu, lagipula ini tidak masuk dalam ujian.&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;...&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terlalu lama libur (baca: menganggur) ternyata tidak enak juga, apalagi kalau tidak tahu harus melakukan apa. saat itulah perasaan jenuh mulai menyerang. kalau sudah begitu bisa-bisa jadi stress.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aku mulai mencari-cari hiburan yang bisa memberi dan menambah semangat. Mau jalan-jalan rasanya malas, apalagi tak ada teman yang bisa diajak. Tadinya sih mau beli dan nonton DVD sepuasnya, tapi sayang pemutar DVD laptopku rusak. Akhirnya aku mencari hiburan di Warnet dekat kosan.&lt;br /&gt;Aku mulai membuat blog (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;blog yang ini nih&lt;/span&gt;), padahal tadinya malas. Awalnya aku tak tahu mau menulis apa di blog ini, tapi setelah dibuat, yang mau kutulis mengalir begitu saja (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;meskipun tidak ada yang penting&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Dan setelah sekian lama mencari-cari, akhirnya kutemukan juga tempat di mana bisa mendownload virus (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;untuk menambah koleksiku&lt;/span&gt;). Saat ini aku baru bisa mengumpulkan 88 sampel virus, dan hanya sekitar setengahnya yang bisa teridentifikasi. Aku bukannya orang yang ahli dalam soal virus komputer, apalagi bisa membuat virus, aku hanya melakukan apa yang aku suka (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;termasuk menginfeksi komputer orang, hehehe.. bercanda&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;liburan kali ini akhirnya sedikit bisa menyenangkan, semoga di masa yang akan datang akan terpikirkan olehku kegiatan-kegiatan yang lebih menyenangkan lagi untuk mengisi liburan yang tidak kelihatan ujungnya ini, amin.. (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;penutupnya kayaknya kurang nih, tambah lagi&lt;/span&gt;) Dan akupun menyadari, tak ada yang perlu dikeluhkan dalam hidup ini (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;kalau semuanya menyenangkan&lt;/span&gt;), semua akan terasa menyenangkan kalau kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang tepat (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;justru itu yang susah&lt;/span&gt;). Aku juga sebaiknya menikmati masa-masa menganggur ini (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;baca: libur&lt;/span&gt;), siapa tahu suatu saat tak akan ada lagi saat-saat seperti ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ternyata hanya segitu saja yang bisa aku tulis, kira-kira dapat berapa ya?? (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;paling dapat ejekan&lt;/span&gt;). &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-4324164745997258473?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/4324164745997258473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=4324164745997258473' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/4324164745997258473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/4324164745997258473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/07/pr-yang-sulit.html' title='PR yang Sulit'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-980484878897313858</id><published>2007-07-11T23:12:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T23:14:47.837-07:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Pulang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga minggu setelah diklat hanya menganggur saja kerjaannya di Jakarta. Kalau tahu begini sih, dari dulu sudah balik ke Makassar. Gara-gara tidak ada kejelasan informasi dari DJP dan Pusdiklat makanya jadi begini (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sabar.. sabar..&lt;/span&gt;). Teman-temanku yang tinggal di Jawa sih enak, pulang kampung sesuka hati. Padahal aku sudah rindu sama keluarga (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hihi.. kalau punya cewek di Jakarta, masih mau pulang tidak yah?&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari kamis kemarin sih sebenarnya ada rencana pulkam, malah sudah booking tiket (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiketnya mahal-mahal lagi&lt;/span&gt;). Tapi sial, aku dapat sms dari teman (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;thanks&lt;/span&gt; to &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Joe&lt;/span&gt;) katanya jangan pulang dulu, kita disuruh magang. Akhirnya tidak jadi pulang deh, padahal sampai sekarang magangnya belum jadi-jadi juga (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lagi-lagi informasi tidak jelas&lt;/span&gt;). Yah.. apa aku cari cewek Jakarta saja ya, biar betah di sini (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wakakakak.. emangnya gampang cari cewek, padahal sendirinya gak laku!&lt;/span&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-980484878897313858?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/980484878897313858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=980484878897313858' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/980484878897313858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/980484878897313858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/07/aku-ingin-pulang.html' title='Aku Ingin Pulang'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-9046514410098831399</id><published>2007-07-11T22:51:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T22:54:21.118-07:00</updated><title type='text'>Nasib anak STAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah hampir setahun lulus dari STAN, tapi belum ditempatkan juga. Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, lulusan STAN yang masuk pajak memang lama baru bisa penempatan. Sehabis wisuda aku menganggur dulu sekitar dua bulan, terus disuruh magang sebulan lebih, baru mengikuti diklat yang lamanya kira-kira tiga bulan. Padahal anak-anak lulusan STAN lainnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang masuk instansi lain selain pajak&lt;/span&gt;) sudah penempatan semua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang sudah tiga minggu lebih setelah diklat usai, belum juga ada kabar tentang penempatan, malah sekarang disuruh magang lagi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cape deh, magang terus&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya sih tidak masalah kapan penempatannya, soalnya tunjangan jalan terus sejak akhir 2006 (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;850 ribu perbulan cukuplah buatku&lt;/span&gt;). Kata seniorku makan gaji buta itu namanya, gak kerja dapat duit. Hehe.. it's ok, yang penting uangnya halal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;halal apa tidak ya? halal aja lah&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Duuuh.. bosan nih menganggur terus, kapan nih penempatannya?? Sudah tidak sabar nih ingin mengabdi pada negara sebagai pegawai pajak!! (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Huh!! padahal kalau sudah kerja nanti pasti maunya libur terus. Lagipula yang dipikirkan sebenarnya&lt;/span&gt;: kalau sudah kerja, uang yang didapat lebih banyak lagi).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-9046514410098831399?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/9046514410098831399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=9046514410098831399' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/9046514410098831399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/9046514410098831399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/07/nasib-anak-stan.html' title='Nasib anak STAN'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4934150603612721926.post-8452144300294377221</id><published>2007-07-11T22:43:00.000-07:00</published><updated>2011-12-29T18:19:42.162-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar'/><title type='text'>New Kid on the Blog</title><content type='html'>Ehm..ehm.. akhirnya jadi juga aku buat blog. Setelah melihat-lihat blognya kakak, kupikir keren juga. tapi percuma saja kalau tidak ada isinya, kan. Aku tidak begitu pandai dalam menulis, sekedar coba-coba saja. Kalaupun tidak ada yang mau baca, yaaa... biar kubaca sendiri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasihan banget seeh..&lt;/span&gt;). Waduh, baru menulis sesedikit ini sudah diserang rasa malas. Tapi sebagai pembukaan aku rasa cukuplah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Let the story begin...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4934150603612721926-8452144300294377221?l=imr417.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://imr417.blogspot.com/feeds/8452144300294377221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4934150603612721926&amp;postID=8452144300294377221' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/8452144300294377221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4934150603612721926/posts/default/8452144300294377221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://imr417.blogspot.com/2007/07/new-kid-on-blog.html' title='New Kid on the Blog'/><author><name>MN Imran</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02768724357147836138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zRMhf7GGFq0/S16WzaV19eI/AAAAAAAAACc/Hh0m6MITtQ0/S220/Smile+Up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
